Rabu, 03 Maret 2010

tugas 3

PEDOMAN EJAAN YANG DISEMPURNAKAN
Secara lengkap ketentuan penulisan dengan ejaan yang disempurnakan dapat dipelajari dalam buku ‘Pedoman Umum EYD’. Yang dikemukakan dalam handout ini sangat terbatas karena hanya berdasarkan kesalahan umum yang sering dilakukan para siswa.
1. Penulisan kalimat langsung :
• Sebelum berangkat bapak berpesan, “Jaga rumah baik-baik, Bu!”
• “Tujuan saya membuat penelitian ini,” katanya menjelaskan, “adalah untuk melengkapi skripsi saya.”
• “Saya kurang sependapat dengan Anda,” katanya. “Barangkali sebaiknya kita minta pendapat orang ketiga.”
• “Ketika pintu kubuka, kudengar adik berseru, ‘Mama, kakak pulang!’, dan letihku pun lenyap seketika,” ujar Rudy.
• “Kalian dengar suara ‘plung’ tadi?” tanya Pak Sofyan.
• “Dengar, Pak!” jawab kami serempak.

2. Penulisan tentang sesuatu yang berhubungan dengan agama, kitab suci, dan nama Tuhan termasuk kata gantinya :
• Meskipun Rina beragama Kristen, ia membaca juga kitab Weda.
• Bimbinglah hamba-Mu ini, ya Tuhan Yang Mahakuasa, ke jalan yang Engkau beri rahmat.
• Kita hanya bisa mengharapkan pertolongan dari Tuhan Yang Maha Pengasih.
• Masalah-masalah kekristenan dibahas secara mendalam dalam seminar itu.

3. Penulisan gelar kehormatan :
• Tidak seorang pun melupakan jasa-jasa Raden Ajeng Kartini.
• Walaupun bergelar raden ajeng, ia tak pernah menyombongkan diri.
• Pemimpin yang dihormati di Yogyakarta adalah Sultan Hamengku Buwono.
• Negara kita dipimpin oleh seorang presiden.
• Hasanuddin, sultan Makasar, digelari Ayam Jantan dari Timur.
• Brigardir Jenderal Waluyo baru saja dilantik menjadi mayor jenderal.



4. Penulisan nama bangsa, suku, bahasa, nama hari, bulan, tahun, dan peristiwa sejarah :
• Bencana alam yang terjadi di Aceh merupakan peringatan dari Tuhan kepada bangsa Indonesia.
• Ada banyak suku di Indonesia, misalnya suku Sunda, suku Dayak, maupun suku Jawa.
• Di sekolah ini pelajaran bahasa Inggris sangat diutamakan.
• Pada tahun 1997 yang lalu, hari Idul Fitri dan hari Natal sama-sama jatuh di bulan Desember.
• Sejarah kekristenan pernah ternoda oleh peristiwa Perang Salib.

5. Penulisan nama khas dalam geografi :
• Di Indonesia terdapat banyak danau, salah satu yang terkenal adalah Danau Toba.
• Jangan lengah jika kamu berada di jalan yang ramai itu karena kabarnya Jalan Diponegoro sering ‘makan’ korban.
• Saat ini sungai-sungai di Kota Jakarta sudah tercemar, lebih-lebih Sungai Ciliwung.



6. Penulisan nama lembaga, dokumen resmi, dan judul buku :
• Semua undang-undang untuk mengatur negara ini merupakan penjabaran dari Undang-Undang Dasar Republik Indonesia.
• Kabarnya keberadaan Departemen Penerangan akan ditiadakan.
• Ia salah seorang kandidat pemimpin sebuah departemen pemerintahan di republik ini.
• Siapa pernah membaca buku “Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma”?
• Pelajaran Ekonomi untuk Sekolah Lanjutan

7. Perbedaan penulisan antara kata depan dengan awalan di dan ke , serta partikel pun :
• Letakkan barang ini di atas meja yang tinggi agar tidak dipegang-pegang oleh adikmu!
• Diatas hal-hal yang berkaitan dengan materi, kita harus juga mengutamakan sesuatu yang bersifat rohani.
• Ia pergi ke gereja untuk mencari kedamaian hati.
• Siapa nama gadis yang duduk di sampingmu itu?
• Disamping sebagai guru, ia dikenal juga sebagai artis.
• Tidak seorang pun di tempat ini mampu melakukan hal itu.
• Walaupun hujan, acara tetap berlangsung.
• Sekalipun badannya besar, tetapi nyalinya kecil.
• Sekali pun aku tak pernah pergi bersamanya.

8. Penulisan kata gabung:
• Bus antarkota itu setiap hari sarat penumpang.
• Ayahnya seorang purnawirawan ABRI.
• Setiap kata yang dianggap penting perlu digarisbawahi.
• Kita harus menjadi remaja bertanggung jawab.
• Pertanggungjawaban yang dibacakan presiden kurang memuaskan rakyat.
• Semoga Yang Mahaesa mengabulkan doa Anda.

9. Penulisan kata bilangan :
• Peristiwa mengenaskan itu terjadi sekitar tahun 60-an.
• Uang lima ribuan kabarnya akan ditarik dari peredaran.
• Saat ini Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono X.
• Saya anak ke-2 dari tiga bersaudara.
• Pada abad kedua puluh inilah puncak kemerosotan moral.
• Lima puluh peserta akan meramaikan acara itu.
• Acara itu akan diramaikan oleh 50 peserta.

10. Penulisan kalimat dengan tanda baca koma, titik koma, dan titik dua :
• Saya membeli kertas, pena, dan tinta.
• Satu, dua, tiga, …mulai!
• Fakultas itu mempunyai dua jurusan, yaitu Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
• Fakultas itu mempunyai dua jurusan : Ekonomi Umum dan Ekonomi Perusahaan.
• Malam makin larut, tetapi anakku belum juga pulang.
• Malam makin larut; anakku belum juga pulang.

11. Penulisan kata yang memerlukan tanda hubung (-) :
- … telah dikenal sebagai alat pertahan-
an yang canggih.
- … telah dikenal sebagai alat perta-
hanan yang canggih.
- … telah dikenal sebagai alat per-
tahanan yang canggih.
• Pipinya yang kemerah-merahan itu sangat menggemaskan.
• Para gubernur se-Indonesia berkumpul di tempat itu mengadakan pertemuan.
• KTP-nya hilang dua hari yang lalu.

12. Penulisan kalimat yang memerlukan tanda elipsis (…)
• Kalau begitu … baiklah saya maafkan kamu.
• Saya sudah mengerti bahwa….

13. Penulisan kalimat dengan arti khusus atau bermakna konotasi :
• Analisisnya terhadap puisi “Doa” karya Chairil Anwar benar-benar ‘mendalam’.
• Jangan sampai kita ‘tercerabut’ dari akar budaya sendiri.
KOMITMEN ERICSSON DALAM MEMBERDAYAKAN SDM LOKAL


Dunia telekomunikasi indonesia semakin dinamis dan menggairahkan, karena kemajuan teknologi khususnya telekomunikasi dan human resource atau sumber daya manusianya terus berkembang pesat. Hal ini nampak dari peresmian Lab Uji Telekomunikasi pada tanggal 13 Oktober 2009 oleh Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Bapak Prof. Dr. Ir. Mohammad NUH, DEA, di kantor Ericsson Indonesia di Jakarta.

Lab Uji Telekomunikasi yang dibangun untuk berbagai kegiatan uji coba bagi layanan telekomunikasi ini menunjukkan komitmen yang terus bertambah dari Ericsson untuk Indonesia. Dilengkapi dengan peralatan jaringan selular seperti layaknya jaringan di operator, Lab Uji Telkomunikasi ini diperuntukkan sebagai sarana utama dalam penyelenggaraan Research and Development, demo, uji coba (trials) untuk perangkat keras, lunak, maupun piranti telekomunikasi lain.

Selain itu, fasilitas Lab Uji Telkomunikasi ini juga dapat dipergunakan untuk lebih jauh lagi pengembangan sumber daya manusia di Indonesia. Sebagai bagian dari rangkaian “Center of Excellence” di Ericsson Indonesia, Lab Uji Telekomunikasi ini akan mendukung penuh target Ericsson untuk menjadikan Indonesia sebagai pusat keahlian bagi pendukung operasi Ericsson di Asia Tenggara dalam hal Mobile Softswitch (MSS), Charging Systems, dan Mobile Packet Backbone Network.

Arun Bansal, Presiden Direktur Ericsson Indonesia, mengatakan,” Pendirian fasilitas ini ditujukan untuk menyediakan dan menjawab kebutuhan para operator untuk memberikan layanan terbaik bagi pelanggannya dan, di saat yang sama Ericsson ingin menekankan lagi komitmennya dalam membangun kompetensi lokal yang mengangkat para tenaga ahli telekomunikasi Indonesia menjadi lebih kompetitif.”

Pada kesempatan yang sama dengan acara peresmiaan Lab Uji Telekomunikasi ini, akan dilakukan acara penandatanganan nota kesepahaman antara Ericsson dengan 4 universitas terkemuka di Indonesia, Universitas Indonesia (UI), Sekolah Teknik Elektro and Informatika - Institut Teknologi Bandung (STEI-ITB), Universitas Gadjah Mada (UGM) dan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) dalam penghibahan peralatan telekomunikasi sebagai pengejewantahan komitmen Ericsson dalam memberdayakan SDM lokal melalui sarana akademis.





ASURANSI: WIN-WIN SOLUTION DALAM KRISIS
Oleh : M Rosyid Jazuli
Krisis ekonomi yang baru-baru ini terjadi memang berdampak besar bagai pergerakan ekonomi dunia, termasuk Indonesia. Tentu ini berdampak pada lesunya perekonomian negara ini. Akan tetapi, di tengah surutnya aktivitas ekonomi, industri asuransi justru menggeliat di tengah krisis.
Faktanya, akibat krisis banyak perusahaan yang mengalami kerugian. Indikatornya mudah, IHSG sempat turun mencapai hampir 50%. Yang terkena dampak bukan hanya perusahaan, tetapi pekerja—yang pastinya—terancam PHK. Lalu, masalah kembali mncul ketika nasabah ataupun rekanan mempertanyakan nasib harta ataupun investasi yang ditanamkan.
Asuransi Jadi Solusi
Secara konservatif, dapat disimpulkan bahwa adanya jaminan atas kerugian (kegagalan) sangat diperlukan. Agaknya, salah satu bentuk jaminan yang bisa diupayakan adalah asuransi.
Selama ini asuransi memang belum populer di kalangan masyarakat luas. Ini terlihat dari jumlah kontribusi industri asuransi yang baru mencapai 1,8 persen (2007). Kontribusi yang kecil ini disebabkan kesadaran masyarakat, baik individu maupun korporasi, akan pentingnya asuransi masih kurang. Padahal, berbeda dengan lembaga keuangan lain yang melulu hanya mendapat petaka jika terjadi krisis, industri asuransi justru bisa memperoleh ”berkah” dari krisis. Ini karena bisnis asuransi adalah bisnis risiko dan proteksi (Kompas.com, 22/10/08).
Di tengah ketidakpastian akibat krisis seperti ini, orang mulai mengerti mengapa asuransi sangat diperlukan dalam menopang pertumbuhan ekonomi. Kesadaran akan pentingnya berasuransi pun meningkat.
Perekonomian Terjamin
Evelina Pietruschka, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia, yang diwawacarai Kompas (16/06/09), menyatakan bahwa krisis apa saja, mulai dari sosial, ekonomi, sampai perubahan iklim, selalu menjadi momentum industri asuransi untuk tumbuh dan berperan lebih besar dalam perekonomian dan kehidupan masyarakat.
Dengan asuransi, individu akan mendapat manfaat sebagai proteksi pendidikan, kesehatan dan lain-lain. Sementara, bagi korporasi, setidaknya ada dua manfaat besar, yakni bagi usaha korporasi dan lingkungan kerja karyawan.
Bagi perusahan, keberlangsungan pengerjaan proyek-proyek akan terjamin. Sementara, bagi karyawan, tentu keberadaan asuransi akan menjaga lingkungan kerja tetap kondusif. Asuransi akan mengingkatkan produktivitas karena turunnya jumlah hari kerja yang hilang. Selain itu, asuransi juga meningikatkan efisensi dan kualitas kerja, menurunkan biaya-biaya kesehatan dan asuransi, meningkatkan partisipasi dan rasa kepemilikan, dan, terakhir, rasio seleksi tenaga kerja yang lebih baik karena meningkatnya citra perusahaan.
Terkait pembayaran klaim, memang perusahaan asuransi mau tidak mau harus menggelontorkan dana yang cukup banyak (selama tahun 2008, asuransi umum telah membayar klaim Rp 8,05 triliun. Jumlah ini tentu setara dengan pembangunan proyek-proyek infrastruktur, seperti pelabuhan, jalan tol, dan pembangkit listrik). Akan tetapi, pembayaran klaim akan meningkatkan optimisme pasar pada keberadaan industri asuransi. Tentu ini sinyal positif bagi perkembangan industri tersebut. Hal ini juga akan meningkatkan kesadaran, baik korporasi dan individu, bahwa berasuransi adalah penting dalam menghadapi kesusahan.
Bagi perusahaan asuransi inilah momentum mengalirnya pundi-pundi laba dari premi yang masuk. Ini menegaskan bahwa keberadaan perusahaan asuransi menyajikan win-win solution bagi perekonomian negara. Di satu sisi perekonomian terjamin keberlangsungannya (dengan pembayaran klaim atas kerugian), di sisi lain perusahaan asuransi juga tidak dirugikan.
Optimalisasi Peran
Menurut Mira Sih’hati, Ketua Umum Federasi Asosiasi Perasuransian Indonesia, sedikitnya ada tiga hal yang bisa mendorong optimalisasi peran industri asuransi (Kompas.com, 22/10/08). Pertama, political will pemerintah dengan menciptakan iklim yang kondusif dan menggairahkan bagi masyarakat untuk mau menempatkan dananya melalui premi asuransi dalam berbagai program asuransi.
Kedua, partisipasi masyarakat, terutama masyarakat akademis. Selama ini kesadaran asuransi masyarakat sangat rendah karena ketidaktahuan mengingat industri asuransi tidak diperkenalkan di bangku sekolah. Ketiga, inovasi dan profesionalisme para pelaku industri asuransi sendiri, baik layanan, produk maupun SDM-nya.
Akhirnya, sudah seharusnya industri asuransi punya tempat terhormat di kancah perekonomian Indonesia. Perannya, terutama sebagai penjamin kerugian, sangat membantu menjaga kestabilan ekonomi. Selain itu, kesadaran akan besarnya peran asuransi harus dipahami oleh semua pihak. Mari berasuransi!

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar